Dulu, Indonesia dikenal luas sebagai negeri agraris—tanah subur, sawah terbentang, dan masyarakat yang hidup dari hasil bumi. Namun kini, peta telah berubah. Indonesia tak lagi sekadar penghasil pangan, melainkan motor inovasi pertanian dunia. Setelah satu dekade transformasi besar, negeri ini berdiri sejajar dengan negara-negara maju dalam membentuk masa depan pertanian global yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Perubahan ini bukan terjadi begitu saja. Ia lahir dari kesadaran kolektif terhadap tantangan global: perubahan iklim, krisis pangan, dan degradasi lahan. Saat banyak negara masih berjuang mempertahankan produktivitas pangan, Indonesia justru melangkah dengan strategi visioner—menguatkan riset, mengadopsi teknologi modern, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Kini, pertanian bukan lagi hanya urusan cangkul dan sawah. Melalui program Food Estate, digitalisasi lahan, hingga pengembangan varietas unggul tahan iklim ekstrem, Indonesia membangun ketahanan pangan yang menjadi rujukan dunia. Seperti kata banyak pengamat, Indonesia telah membuktikan bahwa kedaulatan pangan bisa dicapai dengan perpaduan antara kearifan lokal, teknologi modern, dan keberpihakan kepada petani.
Revolusi besar ini tak lepas dari lonjakan teknologi yang menembus batas tradisi. Smart farming dan precision agriculture bukan lagi jargon, tapi sudah menjadi keseharian di banyak daerah. Dari sensor tanah, drone pemantau tanaman, hingga irigasi otomatis berbasis AI—semua bekerja serentak meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Lembaga riset dan universitas dalam negeri kini berlomba melahirkan inovasi. Hasilnya? Varietas padi toleran kekeringan dan salinitas buatan anak bangsa kini tumbuh subur di Asia dan Afrika melalui kerja sama pertanian Selatan-Selatan. Sementara startup pertanian lahir bak jamur di musim hujan, menghubungkan petani langsung ke pasar digital dan memangkas rantai pasok yang selama ini memakan banyak biaya.
Dunia pun menaruh perhatian. Pada Oktober 2025, FAO memberikan penghargaan kepada Indonesia atas kontribusi luar biasa dalam kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST). Pengakuan ini menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai pelaku, tapi juga sebagai penggerak utama transformasi pertanian global.
Di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kementan menorehkan hasil nyata. Di tengah tekanan iklim dan krisis pangan global, Indonesia justru mencatat kenaikan produksi beras tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Proyeksi BPS menunjukkan produksi mencapai 33,19 juta ton pada 2025, meningkat lebih dari 12 persen dari tahun sebelumnya. Bahkan, lembaga internasional seperti USDA dan FAO menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk pertumbuhan produksi beras.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono, menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan kebetulan, tetapi hasil kerja terencana. Optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan irigasi, kebijakan pupuk bersubsidi, dan insentif harga gabah yang berpihak kepada petani menjadi kunci lompatan produksi nasional. “Kita ubah paradigma—pertanian bukan lagi bertahan, tapi melompat,” tegasnya.
Keberhasilan ini juga berdampak luas. Stok cadangan beras pemerintah mencapai 4,2 juta ton, sementara nilai tukar petani meningkat menjadi 124,36. Ini bukti bahwa kemandirian pangan tidak hanya meningkatkan ketahanan nasional, tetapi juga kesejahteraan rakyat di akar rumput.
Staf Ahli Kominfo, Molly Prabawaty, menyebut capaian ini sebagai manifestasi dari pesan abadi Bung Karno: bangsa besar adalah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri. Menurutnya, swasembada beras bukan hanya tentang pangan, tetapi tentang martabat nasional—bahwa Indonesia mampu berdikari di tengah ketidakpastian global.
Lebih dari itu, Indonesia kini menjelma menjadi center of excellence dalam pertanian berkelanjutan. Dalam forum-forum internasional, Indonesia hadir bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai mitra solusi—berbagi pengalaman tentang sistem pertanian terpadu, irigasi hemat air, dan pemberdayaan petani muda. Melalui program Indonesia-Africa Agricultural Partnership, Indonesia menularkan teknologi dan semangat gotong royong ke negara-negara sahabat di Afrika Timur.
Konsep Green Agriculture dan Low Carbon Farming kini diadopsi luas di berbagai daerah. Desa-desa pertanian bertransformasi menjadi pusat ekonomi hijau—menggabungkan tanaman, ternak, dan energi terbarukan dalam satu sistem terpadu. Petani tak lagi hanya menanam, tetapi juga menghasilkan energi, mengelola limbah, dan memulihkan lahan kritis.
Transformasi sejati justru berawal dari akar rumput. Melalui program Petani Milenial, Kartu Tani Digital, dan Sekolah Lapang Smart Farming, generasi muda dilatih menjadi pionir pertanian modern. Kini, petani muda Indonesia tidak hanya menanam untuk pasar lokal, tapi juga menembus ekspor dengan sistem digital dan pemasaran daring.
Inilah wajah baru pertanian Indonesia—lebih cerdas, inklusif, dan berdaya saing global. Dari tanah yang dulu sekadar penghasil padi, kini tumbuh semangat inovasi yang menyuplai ide dan teknologi bagi dunia.
Seperti kata Presiden Prabowo Subianto, “Indonesia tidak hanya ingin memberi makan rakyatnya sendiri, tetapi juga berkontribusi memberi makan dunia.” Dan benar, kini dunia mulai menoleh ke arah Indonesia—bukan hanya karena hasil panennya, tapi karena visinya, inovasinya, dan semangat gotong royong yang menjadi jiwa dari kebangkitan pertanian Indonesia.



