Permintaan susu di Indonesia mengalami perubahan signifikan, dari susu bubuk dan susu kental manis ke susu cair (UHT dan pasteurisasi). Tak heran jika investasi di industri pengolahan susu kini melampaui Rp23 triliun, terutama dengan rencana pemerintah meluncurkan program makanan bergizi yang mengedepankan susu sebagai komponen utama. Susu dikenal sebagai sumber nutrisi seimbang, mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral yang tinggi, menjadikannya penting untuk kesehatan tubuh.
Dalam satu gelas susu, orang dewasa bisa mendapatkan 20% dari kebutuhan protein harian, 15% lemak, 9% energi, serta berbagai vitamin dan mineral seperti kalsium, vitamin A, B6, B12, dan masih banyak lagi. Meski demikian, konsumsi susu per kapita di Indonesia masih rendah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia selama lima tahun terakhir cenderung stagnan, berkisar antara 16,23 hingga 16,49 kg/kapita/tahun. Angka ini jauh di bawah rata-rata negara-negara tetangga seperti Malaysia (26,2 kg/kapita/tahun), Thailand (22,2 kg/kapita/tahun), dan Myanmar (26,7 kg/kapita/tahun).
Kendala Populasi Sapi Perah dan Intoleransi Laktosa
Salah satu penyebab rendahnya konsumsi susu di Indonesia adalah faktor biologis, seperti intoleransi laktosa, yang umum terjadi di Asia dan Afrika. Kondisi ini menyebabkan seseorang kesulitan mencerna laktosa dalam susu karena kekurangan enzim laktase. Hal ini sering kali terjadi pada orang dewasa yang saat kecil tidak terbiasa mengonsumsi susu. Selain itu, populasi sapi perah yang rendah juga menjadi kendala. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa pada 2021, populasi sapi perah di Indonesia hanya sekitar 578.579 ekor, dengan produksi susu segar sebesar 962.680 ton per tahun, yang meningkat sedikit menjadi 968.980 ton pada 2022. Namun, jumlah ini masih jauh di bawah total kebutuhan susu nasional yang mencapai 4,4 juta ton.
Upaya Meningkatkan Produksi Susu
Untuk mengatasi rendahnya produksi susu, Kementerian Perindustrian terus berupaya meningkatkan produksi dan ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan susu. Menurut Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan permintaan pasar dari susu bubuk dan susu kental manis ke susu cair (UHT dan pasteurisasi). Industri pengolahan susu kini didominasi oleh produk susu cair dan krim (49%), susu kental manis (17%), dan susu bubuk (17,5%). Bahkan, industri ini sudah mampu mengekspor berbagai produk seperti susu formula, makanan bayi, es krim, keju, yogurt, dan lain-lain.
Pada 2023, investasi di sektor ini mencapai Rp23,4 triliun dan menyerap 37 ribu tenaga kerja. “Ada 88 pabrik pengolahan susu dengan total kapasitas produksi mencapai 4,64 juta ton per tahun,” ujar Putu. Investasi baru seperti PT Frisian Flag Indonesia, PT Nestle Indonesia, PT Kian Mulia, dan rencana investasi Baladna dari Qatar menunjukkan bahwa sektor ini cukup prospektif.
Tantangan dan Solusi
Meskipun prospektif, sektor ini masih menghadapi tantangan besar, termasuk rendahnya populasi sapi perah dan rendahnya produktivitas. Untuk mengatasi masalah ini, Kemenperin memberikan bantuan seperti cooling unit kepada koperasi susu dan mendirikan Milk Collection Point (MCP) serta melakukan digitalisasi penerimaan susu.
Putu menekankan pentingnya kolaborasi antara industri dan peternak untuk meningkatkan populasi sapi perah dan produktivitas. Program kemitraan yang saling menguntungkan diharapkan dapat memfasilitasi peningkatan populasi peternak dan sapi perah serta memberikan pelatihan tentang praktik peternakan yang baik.
Masa Depan Industri Pengolahan Susu
Dengan meningkatnya pendapatan per kapita dan bertumbuhnya kelas menengah, serta pergeseran gaya hidup ke arah yang lebih sehat, konsumsi produk susu olahan diprediksi akan terus meningkat. Saat ini, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia berada di 16,9 kg per kapita per tahun, yang perlu ditingkatkan untuk bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.
“Meski hanya sekitar 20% bahan baku susu dipasok dari dalam negeri, ada peluang besar untuk meningkatkan konsumsi susu di Indonesia,” ungkap Putu. Langkah-langkah untuk meningkatkan produksi susu segar dalam negeri perlu diintensifkan, termasuk meningkatkan populasi sapi perah, meningkatkan produktivitas, dan memfasilitasi program pelatihan peternak.
Industri pengolahan susu memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan kolaborasi antara berbagai pihak, diharapkan industri ini dapat terus tumbuh dan memenuhi kebutuhan pasar domestik serta bersaing di pasar internasional.



