Kopi Jahe hingga Si Pitung: Budaya Betawi Resmi Diakui sebagai Warisan Takbenda 2024!

Budaya Betawi kian mendapat pengakuan dengan ditetapkannya delapan karya budaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2024, termasuk tradisi Nyorog dan kisah legendaris Si Pitung. Langkah ini bukan hanya sekadar simbolik, tapi juga bukti nyata komitmen kuat dalam menjaga kekayaan budaya lokal di tengah modernisasi pesat Jakarta.

Budaya Betawi, yang menjadi salah satu identitas kultural paling kuat di ibu kota, terus mendapat perhatian khusus dalam upaya pelestarian. Hal ini tercermin dalam kolaborasi antara Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Lembaga Kebudayaan Betawi, yang berhasil mengantarkan delapan karya budaya Betawi untuk mendapat pengakuan sebagai WBTb Indonesia 2024.

Namun, perlu dicatat bahwa pengakuan ini tidak terjadi begitu saja. Proses panjang penuh penilaian dan diskusi mendalam telah berlangsung sejak awal 2024, dengan keterlibatan berbagai pihak, termasuk Tim Ahli WBTb dari Kemdikbudristek. Setelah melalui sidang akhir pada Agustus 2024, delapan karya budaya ini akhirnya diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana, menyebut keberhasilan ini sebagai hasil kerja keras kolektif. Menurutnya, delapan karya budaya yang berhasil lolos hingga tahap sidang ini harus terus dijaga dan dilestarikan bersama-sama. Delapan karya tersebut mencakup Nyorog, kopi jahe Betawi, Si Pitung, rias bakal, bahasa Kreol Tugu, oblog, musik sampyong, dan gambus Betawi.

Misalnya, Nyorog adalah tradisi mengirim hantaran makanan kepada kerabat sebagai tanda hormat, terutama menjelang Ramadan. Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan dan persaudaraan yang kuat di masyarakat Betawi. Di sisi lain, kopi jahe Betawi, minuman sederhana yang kaya makna, mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Betawi yang bersahaja namun penuh kebijaksanaan. Kopi ini sering menjadi suguhan pada acara adat atau pertemuan keluarga.

Kisah legendaris Si Pitung, yang dikenal sebagai pahlawan rakyat Betawi, juga mendapat pengakuan. Pitung, simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, tetap menjadi sosok yang dikenang dalam berbagai bentuk seni Betawi. Begitu juga rias bakal, seni merias pengantin Betawi yang sarat makna simbolis dan estetika, yang telah diwariskan turun-temurun.

Kesenian Betawi lainnya seperti musik sampyong dan gambus Betawi juga menunjukkan kekayaan seni tradisional yang berakar kuat pada budaya lokal. Musik sampyong, dengan alat musik sederhana seperti kendang dan suling, sering dimainkan dalam acara adat. Sementara gambus Betawi, yang mendapat pengaruh dari Timur Tengah, menambah warna musik Betawi yang khas.

Jakarta, sebagai kota metropolitan, sering kali menghadapi tantangan dalam menjaga identitas budaya lokalnya. Namun, dengan penetapan karya budaya Betawi sebagai WBTb, diharapkan budaya lokal ini tetap eksis dan relevan di tengah modernisasi yang pesat.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek, Hilmar Farid, menekankan bahwa penetapan WBTb bukan hanya tentang mendapatkan sertifikat. Yang lebih penting adalah langkah-langkah yang diambil setelahnya untuk memastikan bahwa budaya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Iwan Henry Wardhana juga menyoroti pentingnya integrasi warisan budaya dalam sistem pendidikan, agar generasi muda bisa mengenal dan mencintai budaya mereka sendiri. Ini menjadi salah satu cara agar pelestarian budaya tidak hanya berhenti di kalangan akademis atau pemerintah, tapi benar-benar meresap ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sejak 2013, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berhasil menambah jumlah WBTb hingga mencapai 85 karya budaya, termasuk enam karya budaya yang diakui pada 2021. Ini membuktikan bahwa meski Jakarta terus berkembang menjadi kota modern, budaya lokal seperti Betawi tetap memiliki tempat penting.

Tantangan modernisasi tidak seharusnya menjadi ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat identitas budaya. Dengan pelestarian budaya Betawi yang semakin kuat, Jakarta tak hanya dikenal sebagai pusat ekonomi dan politik, tapi juga sebagai kota yang menghormati dan melestarikan warisan budaya lokalnya.

Dengan demikian, penetapan karya budaya Betawi sebagai WBTb Indonesia adalah sebuah langkah maju dalam menjaga akar sejarah dan nilai-nilai budaya yang menjadi fondasi masyarakat Jakarta. Di tengah arus globalisasi, pelestarian budaya seperti ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan yang menghargai dan menghormati keberagaman budaya lokal.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×