Dalam sepuluh tahun terakhir, pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk mempercepat transisi energi demi mencapai kemandirian berkelanjutan. Upaya ini dilakukan dengan memperbanyak penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT), seperti tenaga air, surya, panas bumi, dan angin. Targetnya, bauran energi hijau di Indonesia diharapkan mencapai 23 persen pada tahun ini, sebagai langkah nyata menuju ambisi bebas emisi atau zero net emission pada 2060. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil tetapi juga untuk menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dalam transformasi energi hijau.
Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming semakin mempercepat langkah ini. Dalam momentum 100 hari kinerja Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meresmikan 37 proyek strategis ketenagalistrikan. Peresmian ini dipusatkan di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede, Sumedang, Jawa Barat. Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan kemampuan untuk mewujudkan transformasi energi ini. Ia menyebut bahwa Indonesia kini menjadi salah satu negara yang terdepan dalam pengembangan energi terbarukan, menciptakan energi bersih yang berkontribusi besar dalam mengurangi emisi karbon.
Proyek strategis ini mencakup 26 pembangkit listrik yang tersebar di 18 provinsi, ditambah pembangunan 11 proyek transmisi sepanjang 739,71 km dan gardu induk dengan kapasitas 1.740 MVA. Dengan nilai proyek yang mencapai Rp72 triliun, kapasitas listrik yang dihasilkan lebih dari 3,2 Gigawatt (GW). Proyek-proyek ini diharapkan dapat melistriki ratusan ribu rumah serta mengurangi emisi karbon hingga lebih dari satu juta ton per tahun. Selain itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa proyek ini sepenuhnya digarap oleh putra-putri terbaik bangsa, menunjukkan bahwa Indonesia semakin mendekati swasembada energi dalam waktu dekat.
Sebagian besar pembangkit listrik yang diresmikan, yaitu sekitar 89 persen, menggunakan energi bersih seperti gas, minihidro, panas bumi, dan tenaga surya. Salah satu pembangkit yang menjadi sorotan adalah PLTA Jatigede, yang dibangun di Bendungan Jatigede, Kabupaten Sumedang. Dengan kapasitas 110 MW, PLTA ini mampu melistriki lebih dari 71.923 rumah dan mengurangi emisi CO2 hingga 415.800 ton per tahun. Selain manfaat lingkungannya, proyek ini juga memberikan dampak sosial dengan menyerap tenaga kerja lokal dan memberdayakan masyarakat sekitar.
Proyek lainnya adalah PLTA Asahan III di Sumatera Utara, yang berkapasitas 174 MW. PLTA ini ditargetkan melistriki lebih dari 113.769 rumah dan mengurangi emisi karbon hingga 688.610 ton per tahun. Pembangunannya melibatkan ribuan tenaga kerja lokal dan UMKM setempat, mencerminkan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat. Proyek ini juga menjadi bukti nyata percepatan pembangunan infrastruktur energi bersih di Indonesia.
Di sisi lain, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun di Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi simbol penting pemanfaatan energi hijau. Dengan kapasitas 50 MW Alternating Current dan teknologi Battery Energy Storage System (BESS), PLTS ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah IKN sekaligus mengurangi emisi karbon hingga 44.000 ton per tahun. PLTS ini tidak hanya memastikan keberlanjutan pasokan energi bersih tetapi juga melibatkan ratusan pekerja lokal dan UMKM dalam pembangunannya.
Meski demikian, masih ada tantangan besar yang harus diatasi. PT PLN mencatat bahwa dari total suplai listrik nasional sebesar 101 GW, energi baru terbarukan baru mencapai 15-16 persen. Masih ada defisit sekitar 8 persen untuk mencapai target bauran energi 23 persen pada 2025. Namun, PLN terus berkomitmen untuk mengelola infrastruktur kelistrikan secara andal, memastikan pasokan listrik yang dihasilkan dapat mendukung kegiatan masyarakat dan sektor industri secara optimal.
Transformasi energi ini adalah langkah penting untuk masa depan Indonesia. Dengan memanfaatkan potensi besar sumber daya alam, ditambah inovasi teknologi dan keterlibatan masyarakat lokal, Indonesia tidak hanya bergerak menuju kemandirian energi tetapi juga menjadi contoh global dalam pengembangan energi hijau. Ambisi besar ini membutuhkan dukungan dan sinergi dari semua pihak agar tujuan menuju nol emisi dan keberlanjutan dapat tercapai sesuai harapan.



