ChatGPT bilang:
Di tangan orang-orang kreatif, potongan kain sisa yang dulu dianggap sampah kini menjelma menjadi karya bernilai tinggi. Begitulah kisah inspiratif yang tumbuh di sebuah sudut Jawa Barat, di kampung kecil yang kini akrab disebut “Kampung Perca.”
Di kampung ini, potongan kain bekas produksi industri garmen yang dulunya hanya memenuhi halaman kini berubah menjadi simbol harapan baru — membuka peluang ekonomi, memperkuat kemandirian, dan menumbuhkan kebanggaan akan kreativitas lokal.
Dulu, tak ada yang mengira bahwa tumpukan kain perca berwarna-warni dengan potongan tak beraturan bisa jadi berkah. Namun ketika kesadaran tentang ekonomi kreatif dan pengelolaan limbah ramah lingkungan mulai tumbuh, warga mulai bertanya: “Mengapa tidak kita olah jadi sesuatu yang berguna?”
Dengan modal mesin jahit sederhana dan semangat gotong royong, sekelompok ibu rumah tangga memulai langkah kecil namun berarti — menjahit sisa kain menjadi keset, tas, taplak, hingga pakaian anak. “Awalnya kami hanya ingin mengisi waktu luang,” kenang Lilis, salah satu pengrajin. “Tapi ternyata hasil karya kami diminati banyak orang, dari tetangga sekitar sampai pembeli daring dari luar kota.”
Dari situlah, kain perca yang dulu dianggap limbah berubah menjadi simbol ketekunan dan kemandirian. Kampung Perca lahir bukan dari modal besar, melainkan dari keberanian bermimpi dan kemauan untuk mencoba.
Menjahit Harapan di Sudut Bogor
Tak banyak yang tahu, di Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Bogor Timur, berdiri sebuah kampung yang mengubah limbah menjadi sumber kehidupan. Kampung Perca kini dikenal luas sebagai contoh nyata kebangkitan ekonomi lokal yang lahir dari tangan-tangan ibu rumah tangga di masa sulit pandemi.
Saat pandemi Covid-19 melanda, hampir seluruh sendi kehidupan lumpuh. Di Sindangsari, angka pengangguran melonjak tajam — naik hingga 52,75 persen, sementara jumlah keluarga miskin bertambah dua kali lipat. Namun, di tengah keterpurukan itu, warga tidak menyerah.
Melalui forum Rembug Warga, mereka mencari solusi agar tetap produktif tanpa harus keluar rumah. Dari diskusi sederhana itulah muncul ide brilian: mengolah sisa kain dari pabrik konveksi sekitar menjadi produk bernilai jual.
Awalnya, hasilnya tak seberapa. Beberapa ibu menjahit masker, taplak meja, dan keset sekadar untuk tambahan pendapatan. Tapi tak lama kemudian, pemerintah Kota Bogor turun tangan. Lewat kolaborasi dengan Dekranasda dan berbagai lembaga, mereka mendapat pelatihan desain, peningkatan kualitas produk, hingga akses pemasaran digital.
“Harapan kami, Kampung Perca bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal,” ujar Yantie Rachim, Ketua Dekranasda Kota Bogor. Dan benar saja, sejak itu Kampung Perca berkembang pesat menjadi sentra ekonomi kreatif baru yang kini menjadi kebanggaan warga Bogor Timur.
Kolaborasi dan Inovasi Tanpa Batas
Semangat kolaborasi ini melahirkan banyak terobosan. Para ibu rumah tangga kini tidak hanya membuat keset atau taplak, tapi juga berinovasi menghasilkan produk fashion, tas, celemek, sajadah, hingga dekorasi rumah.
Kolaborasi dengan desainer nasional Adrie Basuki membawa Kampung Perca naik kelas. Bersama warga, Adrie melahirkan lini busana berkelanjutan yang memadukan konsep zero waste dan estetika modern.
Kini Kampung Perca tak hanya dikenal sebagai sentra produksi, tetapi juga destinasi wisata kreatif. Pemerintah mempercantik kampung dengan mural, gerbang tematik, dan toko mini yang menampilkan hasil karya warga. Pengunjung yang datang bukan hanya berbelanja, tapi juga bisa belajar langsung melihat bagaimana kain sisa disulap jadi karya menawan.
Kampung ini menjadi laboratorium hidup tentang bagaimana inovasi lahir dari keterbatasan. Di setiap rumah terdengar suara mesin jahit berpadu dengan tawa dan cerita — ibu menjahit, anak-anak memilah kain, sementara remaja mengurus pemasaran online. Sebuah ekosistem ekonomi yang tumbuh dari bawah, berbasis solidaritas dan kerja sama.
Ekonomi Kreatif yang Berkelanjutan
Kisah Kampung Perca tak lepas dari sosok Adrie Basuki, desainer muda yang membawa napas baru dalam dunia mode berkelanjutan. Dalam Workshop “Lukisan Kain Marmer Hasil Daur Ulang” yang digelar dalam rangka BCA Syariah Media Workshop: Mewujudkan Keberlanjutan Penuh Berkah (Bogor, 1/11/2025), Adrie membagikan perjalanan panjangnya.
“Sekolah mode di London membuat saya sadar bahwa fashion bukan hanya soal gaya, tapi juga tanggung jawab terhadap bumi,” ujarnya. Dari sanalah lahir gagasan untuk menciptakan brand dengan DNA circular zero waste — mengolah kain hingga tak ada limbah tersisa.
Namun, titik balik terbesar justru terjadi saat ia kembali ke Indonesia dan bertemu para ibu korban pinjaman online di kampung kecil Bogor. “Banyak dari mereka kehilangan rumah dan pekerjaan. Kami mulai bereksperimen dengan kain perca di ruang konveksi tak terpakai, dan dari situ lahirlah kain bermotif marmer yang kini jadi identitas kami,” kenangnya.
Karya itu kemudian membawa mereka ke panggung Jakarta Fashion Week 2021, membuktikan bahwa karya besar bisa lahir dari tangan kecil yang tekun bekerja. “Setiap potong kain yang dijahit adalah simbol perjuangan,” kata Adrie. “Bagi saya, yang paling penting bukan hasil akhirnya, tapi kesempatan baru yang lahir dari proses itu.”
Kini, Kampung Perca bukan sekadar tempat produksi, tetapi ruang pemberdayaan dan pemulihan martabat. Para ibu yang dulunya terlilit utang kini mampu membangun usaha, menghidupi keluarga, bahkan menjadi inspirasi bagi kampung lain.
Literasi Keberlanjutan dan Dukungan Dunia Usaha
Melihat semangat warga, BCA Syariah pun ikut berperan mendorong literasi keberlanjutan melalui kegiatan kreatif. “Keberlanjutan bukan tanggung jawab satu pihak, tapi komitmen bersama,” ujar Muhammad Fikri Hudaya, Sekretaris Perusahaan BCA Syariah.
Melalui workshop bersama Adrie Basuki, puluhan jurnalis belajar langsung membuat kain marble dari sisa tekstil. Tujuannya sederhana: menunjukkan bahwa barang yang tak terpakai pun punya nilai, jika diolah dengan niat baik dan kreativitas.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa sektor keuangan juga dapat mendukung ekonomi sirkular dan industri kreatif. Lebih dari itu, kegiatan ini membuka kesadaran baru bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari rumah — dari sisa kain yang dijahit ulang menjadi karya seni.
Kini, Kampung Perca bukan sekadar cerita sukses ekonomi lokal, tetapi contoh nyata bagaimana kreativitas, kolaborasi, dan semangat kebersamaan bisa menumbuhkan harapan.
Dari potongan kain kecil, mereka menjahit masa depan besar. Dari kampung sederhana di Sindangsari, lahir inspirasi nasional tentang bagaimana ekonomi hijau dan pemberdayaan masyarakat bisa berjalan beriringan.
Kampung ini mengajarkan kita satu hal penting: bahwa inovasi tak selalu datang dari teknologi tinggi, melainkan dari hati yang mau berbuat. Dari setiap jahitan, mereka menenun keberlanjutan — bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga untuk bumi yang kita cintai bersama.



