Hanoi menjadi saksi unjuk kualitas industri kabel Indonesia dalam ajang Wire and Cable Show Vietnam 2024 yang digelar pada 20–22 November 2024. Enam perusahaan kabel Tanah Air tampil penuh percaya diri, membawa produk unggulan yang siap menembus pasar Asia Tenggara dan global.
“Ini bukan sekadar pameran,” ujar Rizky Aditya Wijaya, Direktur Industri Logam Kemenperin. Menurutnya, ajang ini menjadi momentum strategis untuk memamerkan kemampuan industri kabel Indonesia yang sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi, membuka akses pasar, dan memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok global.
Ajang Prestisius Industri Kabel
Wire and Cable Show Vietnam 2024 bukan acara biasa. Dengan area pameran hampir 3.500 meter persegi dan menampilkan 132 booth dari 92 exhibitor, pameran ini mempertemukan inovasi terbaru dari negara-negara besar seperti Korea Selatan, Tiongkok, Malaysia, Vietnam, dan tentunya Indonesia.
Keikutsertaan Indonesia kali ini difasilitasi oleh kolaborasi antara Kemenperin RI dan KBRI Hanoi, yang menghasilkan Paviliun Indonesia di tengah gemerlap pameran. Dalam paviliun ini, enam perusahaan kabel terkemuka—seperti PT Supreme Cable Manufacturing dan PT ZTT Cable Indonesia—menampilkan produk seperti kabel fiber optik, kabel elektronik, hingga konektor tegangan tinggi.
Produk-produk ini bukan sekadar aksesoris infrastruktur. Kualitas kabel yang baik menjadi penentu kelancaran aliran listrik dan konektivitas digital, yang menjadi tulang punggung kehidupan modern. Fakta ini menjadi argumen kuat bahwa industri kabel Indonesia memiliki peran strategis di tingkat global.
Daya Saing Manufaktur Lokal
Industri kabel Indonesia terus berkembang pesat. Berdasarkan data Asosiasi Pabrik Kabel Indonesia (Apkabel), kapasitas produksi serat optik mencapai 15 juta ScKm per tahun. Proses manufaktur, mulai dari pewarnaan hingga pelapisan pelindung, sudah 100 persen dilakukan di dalam negeri, menegaskan kemandirian teknologi nasional.
Ini merupakan hasil dari visi pemerintah yang konsisten mendorong hilirisasi tembaga, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebagai produk hilir tembaga, kabel menjadi komponen vital bagi pembangunan infrastruktur, fasilitas ketenagalistrikan, dan konektivitas internet.
Vietnam, dengan populasi lebih dari 100 juta jiwa, menjadi pasar strategis. Selain itu, forum business matching yang digelar selama pameran membuka peluang kerja sama baru. Salah satu perusahaan Vietnam bahkan menunjukkan minat berinvestasi di Indonesia dengan proyeksi nilai mencapai USD16 juta, fokus pada pengolahan skrap tembaga.
Menantang Rantai Pasok Global
Tidak hanya soal pasar ekspor, kehadiran Indonesia dalam pameran ini juga membidik posisi strategis di rantai pasok global. Produk-produk seperti kabel flame retardant, kabel photovoltaic, dan kabel fiber optik menarik perhatian pembeli potensial dari Vietnam dan negara lainnya.
Menurut Ketua Apkabel, Noval Jamalullail, pameran ini adalah langkah konkret untuk menempatkan industri kabel Indonesia sebagai pemain global. “Dengan teknologi mutakhir dan produk yang beragam, kami optimis industri kabel Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional,” tegasnya.
Indonesia Menuju Pusat Kabel Dunia
Partisipasi dalam ajang ini menjadi cerminan sinergi yang solid antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri. Industri kabel Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga terus memperluas pasar ekspor, membuktikan daya saingnya di kancah global.
Langkah ini mungkin tampak kecil, tetapi dampaknya besar. Dengan visi yang terarah, tidak berlebihan jika kita optimis bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri kabel dunia di masa depan. Pameran seperti Wire and Cable Show Vietnam 2024 adalah salah satu batu loncatan menuju mimpi besar itu.



