Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan kembali menyelenggarakan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2024. Tahun ini, festival yang bertajuk Recaka Musik Lampung berlangsung di Way Halim, Bandar Lampung.
Latar Belakang Festival
Sejak tahun 2021, Kemendikbudristek telah sukses menggelar FMTI di berbagai lokasi seperti Danau Toba di Sumatera Utara, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Tidore di Maluku Utara, dan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur. Keberlanjutan FMTI sangat diharapkan agar kekayaan musik tradisional dapat terus dilestarikan dan memberikan manfaat besar bagi para pegiatnya di daerah, serta edukasi budaya kepada masyarakat.
Pentingnya Melestarikan Musik Tradisional
Dalam pernyataan tertulis yang diterima InfoPublik pada Senin, 15 Juli 2024, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Fitra Arda, mengungkapkan bahwa peradaban Indonesia memiliki pengaruh besar terhadap kebudayaan dunia, termasuk di Lampung. Tradisi seperti jamu, pengobatan urut, kecantikan, atau naskah kuno, merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.
“Festival Musik Tradisi Indonesia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan warisan pengetahuan budaya. Menjaganya adalah investasi yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia. Musik tradisi merupakan bagian penting dalam upaya pemajuan kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan ruang-ruang festival bersama komunitas di daerah,” ujar Fitra.
Fitra menambahkan, langkah-langkah strategis harus terus diambil untuk memperkuat seni budaya di Lampung agar ekosistem musik tradisi dapat terus berlanjut hingga generasi mendatang.
Mengajak Generasi Muda Mengenal Musik Tradisi
Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek, Ahmad Mahendra, mengatakan bahwa melalui festival budaya ini, generasi muda di Lampung diharapkan lebih mengenal dan memahami musik tradisi daerahnya.
“Kami berharap generasi muda secara sadar muncul keinginan untuk merawat, memiliki, mencintai, serta melestarikan seni musik warisan leluhur mereka. Dari situ, pemajuan kebudayaan akan bergerak dengan sendirinya karena kesadaran generasi muda,” ucap Mahendra.
Mahendra juga menyebutkan bahwa Recaka Musik Lampung adalah wujud nyata pelestarian dan pengembangan musik tradisi di Indonesia. Dengan inovasi modern yang tetap menghargai nilai budaya, musik tradisi dapat terus tumbuh dan berkembang.
Dampak Positif bagi Lampung
Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi Lampung, Samsudin, mengapresiasi pelaksanaan Festival Musik Tradisi Indonesia 2024, Recaka Musik Lampung. Festival ini tidak hanya melestarikan budaya daerah tetapi juga menumbuhkan perekonomian masyarakat Lampung.
“Festival Recaka Musik Lampung bukan hanya soal melestarikan seni budaya, tetapi juga memberikan platform bagi seniman musik tradisi untuk menunjukkan bakat mereka dan mengajarkan generasi muda Lampung untuk mengapresiasi musik tradisi dari berbagai sudut pandang,” kata Samsudin.
Keterlibatan Komunitas dan Pegiat Seni
FMTI Recaka Musik Lampung 2024 melibatkan 13 komunitas grup musik tradisi dan lima pegiat kesenian di Lampung, serta satu grup musik dari Sumatera Selatan. Selain itu, sejumlah pengrajin alat musik tradisional Lampung juga turut hadir. Selain pertunjukan seni musik tradisional, FMTI 2024 juga mengadakan seminar yang membahas cara menghidupkan kembali dan menarasikan musik tradisional bersama akademisi dan praktisi.
Dengan pelaksanaan FMTI ini, kekayaan musik tradisi Indonesia dapat terus dilestarikan dan diapresiasi oleh generasi muda. Festival ini tidak hanya memberikan hiburan tetapi juga edukasi yang penting untuk menjaga keberlanjutan budaya. Musik tradisi merupakan identitas bangsa yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Selain itu, festival ini juga memiliki dampak ekonomi positif dengan menarik wisatawan dan meningkatkan pendapatan daerah. Sehingga, festival semacam ini seharusnya mendapat dukungan penuh dari semua pihak agar bisa terus berlangsung dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.



