Garam Kusamba: Diolah Tradisional, Dikonsumsi Global

Garam Kusamba memang unik, tidak terlalu asin melainkan ada rasa gurih yang khas. Jika petani mengolahnya menggunakan palung kelapa, akan ada sedikit rasa manis yang tersisa. Garam bukan hanya sekadar bumbu masakan, tetapi setiap butir kristalnya mengandung kisah perjuangan. Membuat garam tidak semudah menaburkannya ke piring, ada kesabaran tinggi dari para petani yang harus membanting tulang untuk mengubah air laut menjadi mineral penting bagi tubuh. Meskipun garam selalu asin, namun lokasi dan cara pengolahannya bisa mempengaruhi bentuk, ukuran, dan rasa garam itu sendiri.

Di tengah banjirnya garam industri dan rafinasi di pasaran, masih ada daerah di Indonesia yang mempertahankan pembuatan garam secara tradisional dan telah memiliki ceruk pasarnya sendiri. Salah satunya adalah Desa Kusamba dan Desa Pesinggahan di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.

Kedua desa ini berada di pesisir Pantai Kusamba yang berbatasan dengan Kabupaten Karangasem, sekitar 40 kilometer ke arah timur pusat kota Denpasar. Proses pembuatan garam di Kusamba masih sangat tradisional dan telah berlangsung sejak tahun 1500-an. Setiap petani garam mengambil air laut di pesisir Kusamba menggunakan alat sederhana seperti tampah atau daun kelapa. Air laut tersebut kemudian disiramkan berkali-kali ke atas pasir hitam yang menjadi wadah pembuatan garam. Pasir yang telah disiram air laut kemudian dijemur selama dua jam.

Setelah itu, pasir tersebut dipisahkan bagian atasnya dan diangkut ke penampungan untuk dilakukan penyulingan. Dari sini, diperoleh apa yang disebut sebagai air tua. Selanjutnya, air tua ini disiram dengan air muda, yaitu air pantai tanpa proses penjemuran. Air penyulingan ini kemudian dijemur dalam palungan kelapa atau geomembran untuk proses pengkristalan. Jika cuaca cerah, garam dapat dipanen dua hari kemudian. Waktu panen umumnya dilakukan setiap sore pukul 16.00 WITA karena pada saat itu air laut telah berubah menjadi garam. “Pasir kemudian dikeruk dengan tempurung kelapa sehingga akan muncul kristal-kristal garam,” kata seorang petani garam, I Wayan Purna.

Garam Kusamba memiliki karakteristik yang menarik karena bentuknya putih bersih dan berkilau seperti kristal. Butirannya sedikit lebih besar dibandingkan garam pabrik. Rasa garam Kusamba tidak terlalu asin, melainkan lebih gurih, dan jika petani mengolahnya menggunakan palung kelapa, ada sedikit rasa manis yang tersisa. Tidak ada unsur kimia yang membantu terciptanya rasa asin khas dari garam Kusamba.

Ciri khas ini yang membedakan garam Kusamba dengan produk sejenis dari Bali, seperti garam asal Amed dan Tejakula. Wayan Purna sendiri tidak tahu bagaimana garam Kusamba bisa berbeda rasa dibandingkan garam lainnya. Namun, seiring perkembangan zaman, para petani mulai berinovasi namun tetap mempertahankan cara tradisional agar tidak mengubah ciri khas garam. Mereka menggunakan media penjemuran seperti alas plastik geomembran selain palung kelapa yang dibelah dua. Media ini membantu mengantarkan panas matahari lebih cepat dan juga memperkuat rasa asin sesuai minat konsumen.

Setelah benar-benar kering, keluarga Wayan Purna menyiapkan garam untuk diserahkan kepada Koperasi LEPP Mina Sagara, dan sisanya dijual secara pribadi. Dalam satu kali panen, Wayan bisa menghasilkan 20 kilogram garam, dan dalam satu bulan ia dapat mengumpulkan sekitar 400 kilogram garam. Harga garam Kusamba sekitar Rp30.000 per kilogram, lebih mahal dibandingkan garam pabrik yang harganya sekitar Rp10.000 per kilogram. “Biasanya para petani menyetor ke koperasi sebulan sekali sekitar 100 kilogram, sisanya saya jual sendiri jika ada pembeli,” ujar Wayan Purna.

Pemasaran garam Kusamba dilakukan dari mulut ke mulut dan dijual melalui media sosial atau e-commerce. Pembelinya tidak hanya warga lokal tetapi juga wisatawan asing yang datang ke Kusamba untuk melihat proses pembuatan garam yang unik. Pelanggan Wayan kebanyakan berasal dari Jepang dan Prancis. Petani garam lainnya, I Ketut Santa, mengatakan ia memiliki pelanggan tetap asal Jepang yang rutin membeli 50 kilogram sekali pesan.

I Wayan Suartika dari Koperasi LEPP Mina Sagara menjelaskan bahwa pihaknya memerlukan 1,2 ton garam Kusamba yang telah diberi yodium. Garam ini dibeli oleh Pemerintah Kabupaten Klungkung untuk dibagikan kepada seluruh pegawai. Selain itu, garam Kusamba juga dikirim ke Singapura sebagai penyedap rasa yang dijual di pasar swalayan. Garam ini sudah dikemas secara premium.

Transformasi dalam cara produksi dan pemasaran yang tetap mempertahankan tradisi ini menunjukkan bahwa warisan budaya lokal bisa bersaing di pasar global. Garam organik asli Indonesia ini memiliki potensi besar untuk dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×