Harmoni Baru: Gajah dan Petani Hidup Rukun Melalui Agroforestri

Habitat gajah dan petani kini bisa hidup berdampingan dengan harmonis berkat penerapan program agroforestri yang membawa keseimbangan. Program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang bekerja sama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya.

Menurut siaran pers Pertamina yang diterima oleh Infopublik pada Rabu, 14 Agustus 2024, dulu, suara ledakan petasan jumbo menjadi teror bagi kawanan gajah Sumatra yang sering mengganggu perkebunan warga di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Namun, seiring berjalannya waktu, suara itu telah berganti dengan nada yang lebih damai. Suparto, seorang petani sekaligus Sekretaris KTH Alam Pusaka Jaya, menyaksikan transformasi luar biasa dalam hubungan antara manusia dan gajah di wilayah tersebut.

Sebagai pemilik lahan yang berbatasan dengan kantong gajah Balairaja, Suparto dulu mengikuti jejak warga lain yang menggunakan petasan untuk mengusir gajah liar. Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem, ia mulai mempertanyakan metode yang justru merugikan satwa yang dilindungi tersebut. “Kami sadar bahwa gajah juga punya hak untuk hidup dan mencari makan. Dulu kami sering berkonflik dengan gajah, tapi sekarang kami bisa hidup berdampingan,” ujar Suparto.

Ia mengenang masa-masa ketika, antara 1995 hingga 2020, warga menggunakan cara berbahaya ini untuk mengusir gajah yang sering merusak tanaman sawit dan karet mereka. Namun, segalanya berubah setelah ia dan warga lain mengenal Rimba Satwa Foundation (RSF), mitra TJSL PHR, yang memberikan edukasi tentang cara-cara baru yang lebih ramah lingkungan.

Kini, KTH Alam Pusaka Jaya telah menemukan solusi jangka panjang melalui program agroforestri. Mereka mulai menanam tanaman yang tidak disukai gajah tetapi memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti durian, matoa, kopi, alpukat, dan aren. “Kami diberikan edukasi oleh PHR dan RSF, hingga terbentuklah KTH Alam Pusaka Jaya ini,” ungkap Suparto.

Melalui program agroforestri ini, KTH Alam Pusaka Jaya berharap dapat mengurangi interaksi negatif dengan gajah. Mereka juga terlibat dalam rehabilitasi habitat dengan menanam rumput odot (Pennisetum purpureum), makanan favorit gajah, di koridor jalur gajah, tepi sungai, dan batas-batas kebun masyarakat. Dengan cara ini, gajah tetap mendapatkan makanan tanpa harus merusak tanaman warga, sehingga konflik dapat diminimalisir.

Suparto menyatakan bahwa program ini sangat efektif dalam mengurangi konflik antara manusia dan gajah. Selain agroforestri, KTH Alam Pusaka Jaya juga mengembangkan peternakan kambing dengan bantuan dari PT Pertamina Hulu Rokan. “Untuk agroforestrinya, meskipun belum menghasilkan secara ekonomi, tetapi konflik gajah-manusia sudah jauh berkurang. Peternakan kambing kami juga berkembang pesat. Awalnya hanya 13 ekor kambing, sekarang sudah menjadi 23 ekor,” jelasnya. Suparto juga mengungkapkan bahwa mereka berhasil berkurban dua ekor kambing tahun ini.

Keberhasilan KTH Alam Pusaka Jaya ini tidak lepas dari kekompakan dan tanggung jawab seluruh anggotanya. “Kami sering mengadakan musyawarah untuk membagi tugas dan tanggung jawab,” tambah Suparto.

Kisah Suparto dan KTH Alam Pusaka Jaya menjadi bukti bahwa konflik antara manusia dan satwa liar bisa diselesaikan dengan kerjasama dan upaya kolektif. Dengan praktik pertanian berkelanjutan dan pelestarian alam, mereka telah menciptakan harmoni dengan lingkungan sekitar.

Corporate Secretary PHR WK Rokan, Rudi Ariffianto, menegaskan bahwa upaya-upaya ini merupakan bagian dari program TJSL yang bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Rimba Satwa Foundation (RSF) untuk melindungi dan melestarikan gajah serta habitatnya. “Gajah memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan alam,” ujarnya.

Strategi yang diterapkan termasuk penggunaan teknologi seperti pemasangan GPS Collar, pengembangan habitat dan koridor gajah, serta penerapan pertanian agroforestri. Program agroforestri ini juga berdampak positif dalam mengurangi jejak karbon, menjaga keanekaragaman hayati, memberdayakan ekonomi masyarakat, dan menciptakan ruang yang lebih ramah bagi gajah.

Inisiatif ini tidak hanya melindungi ekosistem, tetapi juga membuka jalan bagi manusia dan gajah untuk hidup berdampingan dengan damai.

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Create a new perspective on life

Your Ads Here (365 x 270 area)
Latest News
Categories

Subscribe our newsletter

Purus ut praesent facilisi dictumst sollicitudin cubilia ridiculus.

Home
Search
Explore
Menu
×