Bank Indonesia (BI) bersama dengan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) yang bertindak atas nama Kementerian Keuangan Jepang, telah menyepakati perpanjangan perjanjian Bilateral Swap Arrangement (BSA). Kerja sama ini berlaku efektif mulai 14 Oktober 2024 hingga 13 Oktober 2027, dan menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat stabilitas keuangan di tengah dinamika ekonomi global.
Perjanjian tersebut ditandatangani langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda, menandakan kelanjutan komitmen erat kedua negara dalam bidang keuangan. “Dengan pembaruan kerja sama ini, Indonesia dapat menukarkan Rupiah dengan Dolar AS dan/atau Yen Jepang hingga senilai 22,76 miliar Dolar AS atau setara dengan jumlah tersebut dalam Yen,”** jelas Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, dalam keterangannya pada Selasa (15/10/2024).
BSA: Solusi Stabilitas Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global
Kerja sama BSA ini bukan hanya soal pertukaran mata uang, tetapi juga merupakan bagian dari strategi jaring pengaman keuangan (financial safety net) yang penting bagi kedua negara. Di tengah ketidakpastian ekonomi global—seperti fluktuasi nilai tukar, risiko geopolitik, dan volatilitas pasar—fasilitas ini membantu memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia terhadap guncangan eksternal.
Melalui skema ini, Indonesia bisa mendapatkan akses likuiditas dalam Yen Jepang atau Dolar AS ketika dibutuhkan, yang akan mencegah potensi krisis neraca pembayaran atau pelemahan cadangan devisa. Langkah ini sekaligus menunjukkan betapa pentingnya kerja sama internasional dalam menjaga stabilitas sektor keuangan, baik di tingkat regional maupun global.
Perpanjangan Kerja Sama: Langkah Strategis Bank Indonesia
BI telah menggunakan bauran kebijakan (policy mix) untuk menjaga stabilitas makroekonomi, dan perpanjangan BSA ini adalah bagian dari strategi tersebut. Kerja sama finansial seperti ini tidak hanya memberikan ruang bagi Indonesia untuk menjaga likuiditas, tetapi juga memperkuat hubungan ekonomi dengan Jepang sebagai mitra strategis.
“Dengan adanya perjanjian ini, kedua negara memandang pentingnya kolaborasi finansial sebagai upaya bersama untuk memperkuat sistem keuangan regional dan berkontribusi terhadap kestabilan global,” lanjut Ramdan.
Sejarah Panjang Kerja Sama Keuangan Indonesia-Jepang
Perjanjian Bilateral Swap Arrangement antara Indonesia dan Jepang pertama kali ditandatangani pada 17 Februari 2003. Sejak itu, perjanjian ini telah beberapa kali diperpanjang, termasuk pada 14 Oktober 2021, dengan setiap perpanjangan berlaku untuk periode tiga tahun. Ini mencerminkan tingginya kepercayaan kedua negara terhadap manfaat jangka panjang kerja sama finansial ini.
Keberlanjutan perjanjian ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah tantangan global, sinergi internasional adalah kunci untuk mengantisipasi krisis dan memperkuat ketahanan ekonomi. Dengan akses ke fasilitas pertukaran mata uang ini, Indonesia memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk meredam gejolak ekonomi global dan memastikan stabilitas finansial dalam negeri tetap terjaga.
Optimisme Menuju Ekonomi yang Lebih Stabil dan Berdaya Saing
Langkah BI untuk memperpanjang kerja sama BSA bersama Jepang adalah tanda bahwa Indonesia bersiap menghadapi masa depan ekonomi yang lebih dinamis dan kompetitif. Selain memperkuat cadangan devisa, perjanjian ini juga memperkuat persepsi positif di pasar internasional tentang komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan menghadapi risiko global.
Semakin terintegrasinya ekonomi Indonesia dalam ekosistem keuangan internasional, kerja sama seperti ini menjadi krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. “Kerja sama dengan Jepang ini lebih dari sekadar akses likuiditas. Ini adalah bentuk komitmen kedua negara untuk tumbuh bersama dan menghadapi tantangan ekonomi global dengan solid,” tutup Ramdan.
Perpanjangan perjanjian BSA hingga 2027, Indonesia kini lebih siap dalam mengantisipasi risiko eksternal dan mengamankan stabilitas ekonomi, sambil memperdalam hubungan strategis dengan Jepang sebagai mitra finansial utama.



