Transformasi pendidikan kejuruan terus mendorong kolaborasi sebagai kebijakan utama untuk memperkuat pendidikan vokasi di Indonesia. Joint Working Group (JWG) ke-13 menjadi momentum penting untuk meningkatkan hubungan antara Indonesia dan Prancis dalam memperkuat sistem pendidikan vokasional di masa depan.
Menurut Kiki Yuliati, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, kemitraan dengan dunia usaha dan industri menjadi fokus utama dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi. Ini bertujuan untuk menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, dengan penekanan pada pengembangan soft skill dan karakter.
Kemendikbudristek juga mendorong pendidikan vokasi untuk membangun teaching factory guna menyediakan lingkungan pembelajaran berbasis industri. Melibatkan praktisi sebagai pengajar diharapkan dapat memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dan dosen.
Selain itu, program seperti Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) didesain untuk mempersiapkan tenaga pengajar dan mahasiswa dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mempromosikan ekosistem riset di kampus vokasi, termasuk melalui program Kedaireka untuk kolaborasi penelitian.
Dalam konteks internasional, Kemendikbudristek aktif mempromosikan mobilitas staf dan pelatihan ke luar negeri, termasuk ke Prancis, untuk meningkatkan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan dalam bidang-bidang spesifik.
Beny Bandanadjaja menambahkan bahwa pada tahun 2024, terdapat 38 universitas mitra dan 4 mitra internasional yang berpartisipasi dalam skema tematik untuk riset terapan, mendukung berbagai program pemerintah, seperti penanganan perubahan iklim dan pengembangan teknologi biomaterial.
Transformasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Indonesia, tetapi juga mempersiapkan lulusan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan karakter yang kuat, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.



