Di era di mana banyak orang semakin sadar akan pentingnya kembali ke alam, kain tenun dengan pewarna alami semakin diminati. Walaupun harga per lembar kain tenun dengan pewarna alam lebih tinggi, konsumen tetap mencari produk ini karena nilai keasliannya yang tak ternilai.
Saat ini, desa wisata menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan pariwisata lokal di berbagai daerah. Pemerintah gencar mendorong pengembangan desa wisata sebagai cara untuk mempercepat pembangunan desa dan mendorong transformasi sosial, budaya, dan ekonomi. Dana desa yang kini tersedia bagi setiap desa berperan besar dalam inisiatif ini.
Contoh menarik dari inisiatif ini adalah Desa Wisata Budaya Tenun di Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Desa ini semakin dikenal sebagai pusat kain tenun lunggi, terutama di kalangan wisatawan mancanegara dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Seperti yang dikatakan Sasmita, seorang guru lokal, “Kini banyak wisatawan dari Malaysia dan Brunei datang ke sini, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun bis. Kampung kami mulai ramai sejak kain tenun lunggi mulai dikenal.”
Keunikan dan Nilai Kain Tenun Lunggi
Apa yang membuat kain tenun lunggi dari Sambas begitu istimewa? Keunikan terletak pada penggunaan pewarna alami yang membuatnya sangat dicari, meskipun harganya lebih mahal. Pewarna alami memberikan nilai tambah pada kain tenun, menjadikannya lebih menarik bagi pasar internasional.
Menurut penelitian dari Universitas Tanjung Pura, para perajin di Desa Sumber Harapan menggunakan hingga 30 jenis pewarna alami yang berasal dari berbagai tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, engkerebai, dan sebangki. Bagian-bagian tanaman ini—seperti akar, daun, batang, bunga, dan buah—memberikan berbagai warna yang indah dan unik pada kain tenun.
Proses pembuatan kain tenun lunggi dimulai dengan pewarnaan benang, yang kemudian digulung menggunakan alat bernama tarawan. Setelah itu, perajin mengikat motif dan menenun benang dengan bahan sutra yang dikombinasikan dengan benang emas. Motif khas seperti tumpal atau pucuk rebung menambah daya tarik kain lunggi dari Sambas.
Pelestarian Budaya dan Ekonomi Lokal
Keberadaan desa wisata tenun di Desa Sumber Harapan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pelestarian budaya tetapi juga sebagai pendorong ekonomi lokal. Dengan lebih dari 1.000 perajin terdaftar di Sambas, kain tenun lunggi, terutama yang menggunakan benang emas dan memiliki motif pucuk rebung, menjadi produk unggulan daerah ini.
Kain tenun lunggi, dengan motif pucuk rebung yang berbentuk segitiga memanjang, tidak hanya berfungsi sebagai simbol estetika tetapi juga mengandung makna mendalam. Motif ini melambangkan kemajuan, integritas, dan kerendahan hati, yang diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk terus maju dan tetap bersikap rendah hati.
Menunjang Perekonomian dan Destinasi Wisata
Adanya desa wisata tenun ini diharapkan dapat memperluas pasar produk tenun sambil melestarikan tradisi yang telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Sambas ke-2, Raden Bima. Kelompok Usaha Bersama (KUB) seperti KUB Mawar, KUB Melati, dan KUB Tabur Bintang adalah contoh nyata dari bagaimana perajin tenun membentuk kelompok untuk memudahkan produksi dan pemasaran.
Memproduksi kain tenun lunggi memerlukan waktu yang tidak singkat—dari dua minggu untuk motif sederhana hingga waktu lebih lama untuk desain yang lebih kompleks. Namun, proses panjang ini membuahkan hasil berupa produk yang tidak hanya cantik tetapi juga kaya akan makna dan sejarah.
Kain tenun lunggi dari Sambas adalah contoh nyata kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. Dengan mendukung desa wisata dan produk lokal seperti kain tenun ini, kita tidak hanya menjaga tradisi tetapi juga mendukung perekonomian lokal dan memperkaya pengalaman wisatawan. Mari kita terus gunakan dan hargai kekayaan budaya ini agar tetap hidup dan berkembang untuk generasi mendatang.



