Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk merancang Rencana Strategis (Renstra) periode 2025-2029.
Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Cecep Kurniawan, menjelaskan bahwa upaya ini dilakukan untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 dengan tema ‘Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan’.
Cecep menyatakan bahwa arah pembangunan nasional tahap I tahun 2025-2029 akan fokus pada penguatan fondasi transformasi dengan penekanan pada lima agenda pembangunan nasional: transformasi sosial, transformasi ekonomi, transformasi tata kelola, supremasi hukum dan stabilitas, serta ketahanan sosial, budaya, dan ekologi.
“Kemenhub berperan penting dalam sektor transformasi ekonomi dengan memperkuat infrastruktur dan konektivitas guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Cecep, seperti dikutip InfoPublik pada Jumat (17/5/2024).
Ia juga menambahkan bahwa penyusunan Renstra Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tahun 2025-2029 akan menjadi penjabaran dari Renstra Kemenhub dan RPJMN tahun 2025-2029, yang saat ini sedang disusun dan disinkronkan dengan target Indonesia Emas 2045.
Setelah tiga tahun terdampak pandemi COVID-19, industri penerbangan domestik mulai pulih. Pada tahun 2023, tingkat pemulihan pergerakan pesawat domestik mencapai 71 persen dibandingkan dengan 2019. Sementara itu, tingkat pemulihan penumpang domestik sebesar 83 persen dan kargo domestik sebesar 79 persen. Diharapkan angka-angka ini akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
“Dalam lima tahun ke depan, kita akan menghadapi berbagai tantangan di bidang penerbangan. Regulator dan operator harus bersinergi untuk memajukan industri penerbangan,” ujar Cecep.
Beberapa isu strategis yang akan dihadapi antara lain:
- Pengembangan konsep hub dan spoke;
- Evaluasi harga tiket pesawat;
- Pengembangan Seaplane/Waterbase;
- Peningkatan kinerja infrastruktur logistik di wilayah timur;
- Isu kapasitas dan ekspansi jumlah penumpang serta konektivitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi;
- Program jembatan udara dan pelayanan keperintisan di wilayah 3TP;
- Skema pembiayaan non APBN seperti KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha);
- Perkembangan teknologi penerbangan (drone, smart airport, cyber security);
- Perubahan lingkungan (climate change).
Cecep menekankan bahwa arah dan kebijakan Ditjen Hubud dalam lima tahun ke depan akan tetap fokus pada mewujudkan konektivitas, meningkatkan keselamatan, keamanan, kinerja layanan transportasi udara, serta meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik dan kualitas transportasi udara yang ramah lingkungan.
Dalam penyusunan Renstra ini, Ditjen Hubud tidak hanya mengundang peserta dari seluruh Unit Kerja di lingkungan Ditjen Hubud, tetapi juga mengadakan FGD pada Februari 2024 yang melibatkan stakeholder dan instansi terkait di luar Ditjen Hubud.
“FGD ini diharapkan menjadi wadah untuk menciptakan kolaborasi, berbagi pandangan, serta menggali informasi dan masukan guna menentukan perencanaan strategis dan arah kebijakan Renstra 2025-2029,” pungkasnya.
Dalam konteks global yang semakin kompleks dan dinamis, penyusunan Renstra yang komprehensif dan inklusif menjadi krusial. Ini bukan hanya untuk menghadapi tantangan internal, tetapi juga untuk bersaing di kancah internasional. Kolaborasi erat antara regulator, operator, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya akan memastikan bahwa sektor penerbangan Indonesia tidak hanya pulih, tetapi juga tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.



