Mahasiswa vokasi semakin diberi kebebasan untuk berinovasi. Melalui Kompetisi Pariwisata Indonesia (KPI) ke-14, tim dari Program Studi Perjalanan Bisnis Pariwisata Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan produk inovatif bernama ‘Uwuh Parahita’. Produk ini bertujuan untuk mengatasi masalah lingkungan.
Tiga mahasiswa semester dua yang terlibat dalam penciptaan produk ini adalah Fanny Rahma Putri, Mahendra Dwi Nugroho, dan Atifa Wul. Mereka berhasil memanfaatkan limbah sampah di sekitar untuk membuat ‘Uwuh Parahita’, yang mengantarkan mereka meraih Juara 1 pada kategori cycle eco-bition dalam ajang KPI ke-14 di Politeknik Negeri Bandung. Selain itu, ‘Uwuh Parahita’ juga memenangkan penghargaan sebagai juara favorit.
“Ini adalah kategori baru di KPI. Awalnya, kami tidak tahu apa yang akan dibuat, tetapi setelah melihat banyaknya sampah di sekitar, kami memutuskan untuk membuat ‘Uwuh Parahita’,” jelas Fanny.
Menurut Fanny, ‘Uwuh Parahita’ berasal dari kata ‘uwuh’ dalam bahasa Jawa yang berarti sampah dan ‘parahita’ dalam bahasa Sansekerta yang berarti kebermanfaatan atau kesejahteraan bersama. Dengan demikian, ‘Uwuh Parahita’ berarti sampah yang dikelola untuk memberikan manfaat dan kesejahteraan bersama.
Keunggulan 4 dalam 1 Produk
Latar belakang terciptanya ‘Uwuh Parahita’ berasal dari pengalaman mahasiswa yang menghadapi minimnya tempat sampah, sirkulasi udara yang buruk, barang yang berserakan, dan kurangnya pencahayaan di kamar. ‘Uwuh Parahita’ dirancang untuk mengatasi semua masalah tersebut sekaligus.
Produk ini berbentuk pohon yang terbuat dari bekas kaleng biskuit dengan empat bagian utama: wadah uwuh untuk menampung sampah organik dan anorganik, wadah nandur sebagai tempat menyimpan pot mini, wadah barang untuk menyimpan barang kecil, dan lampu amben sebagai lampu tidur hemat energi yang hanya membutuhkan listrik 3 watt.
Mahendra menambahkan bahwa ‘Uwuh Parahita’ sepenuhnya menggunakan barang-barang bekas yang mudah ditemukan di sekitar, sehingga produk ini sangat mudah dibuat di rumah. Produk ini juga bisa dibongkar pasang, memudahkan pengguna dalam pembuangan sampah dan memungkinkan mereka untuk mengkreasikan produk sesuai kebutuhan dengan cara menukar letak komponen, menambah, atau mengurangi komponen.
“Ini memudahkan pembuangan sampah ke tempat yang lebih besar dan pengguna dapat mengkreasikan produk sesuai kebutuhan,” ungkap Mahendra.
‘Uwuh Parahita’ menunjukkan bahwa mahasiswa vokasi mampu menghasilkan produk inovatif yang ramah lingkungan. Produk ini menjadi contoh bagaimana sampah di sekitar kita dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi solusi bagi masalah sehari-hari. Ke depan, Fanny dan tim berencana untuk terus mengembangkan produk ini agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Inovasi seperti ‘Uwuh Parahita’ membuktikan bahwa mahasiswa vokasi memiliki potensi besar dalam menciptakan solusi nyata untuk masalah lingkungan. Dengan memanfaatkan limbah yang ada di sekitar, mereka tidak hanya mengurangi jumlah sampah, tetapi juga menciptakan produk yang berguna dan dapat dengan mudah diterapkan di rumah tangga. Ini adalah contoh konkret bagaimana pendidikan vokasi dapat berkontribusi secara langsung pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Dukungan dan pengembangan lebih lanjut terhadap inovasi semacam ini sangat penting untuk membangun kesadaran lingkungan dan mendorong praktik berkelanjutan di seluruh lapisan masyarakat.



